Rasanya Menjadi Alumni Al-Zaytun ep. 1

"Wali santri Al-Zaytun sebut anaknya berbeda ketika pulang liburan"

"Doktrin Al-Zaytun kepada para santri"

"Beginilah cara Al-Zaytun membai'at para santri"

"Asal punya uang, santri diperbolehkan berzina di Al-Zaytun"


Aku menghela nafas membaca headline berita online. Bagaimana tidak, setelah sekian lama tidak terdengar beritanya akhirnya almamaterku kembali viral. Sayangnya lagi-lagi bukan viral dengan berita positif, shalat Iedul Fitri dengan shaf berjarak dan segala dramanya. Dan seperti yang sudah bisa diprediksi, berita negatif yang susah payah dikorek para netizen pun sukses di viralkan juga.


Lalu "Benarkah semua tundingan negatif tersebut?"


Begitu kurang lebih pertanyaan yang terlontar baik secara gamblang maupun tersirat dari netizen kepada para Alumni Al-Zaytun.

---

Bismillahirrahmanirrahim....

Sebelum menanggapi pertanyaan tersebut izinkan aku mengeluarkan semua memori ku yang berkaitan dengan Pondok Pesantren Ma'had Al-Zaytun.

---

Sekitar akhir tahun 2000 atau awal tahun 2001 orangtuaku secara tiba-tiba bertanya.

"Teh katanya kamu mau SMP di pesantren? Udah tau mau dimana?"

Aku bingung harus menjawab apa. Karena wacana sekolah di pesantren jujur saja hanya gertak sambal bocah SD yang sedang ngambek atas ketidaknyamanan aturan orangtua yang dia rasakan. Bukan keinginan sebenarnya.

"Di Al-Zaytun mau?"

"Al-Zaytun?"

"Iya. Ma'had Al-Zaytun. Ini Wa Eha cerita ada pesantren baru di dekat rumahnya. Bagus. Megah. Di klaim sebagai pesantren modern terbesar di Asia Tenggara"

"Hmmmm terserah bapak sama ibu aja"

Begitulah awal mula hubunganku dengan Ma'had Al-Zaytun.

---

Maret 2001

Weekend ini salah satu hari bersejarah bagiku. Bagaimana tidak, keluargaku berangkat pagi-pagi sekali ke stasiun kereta api. Sayangnya pada masa itu tiket kereta sulit didapat untuk hari yang sama, terutama weekend dan musim liburan, jika tidak dipesan dari beberapa hari sebelumnya.

Berbekal semangat kami pindah lokasi ke terminal bus. Qadarullah saat itu tidak ada bus yang beroperasi karena supirnya sedang melakukan aksi mogok.

Akhirnya orangtuaku menyewa taksi dengan biaya sekitar Rp 300.000,- untuk perjalanan Jakarta - Indramayu. Bukan ongkos yang murah pada masa itu.

Masalah tidak langsung teratasi hanya karena kami berhasil menyewa alat transportasi. Perjalanan kami masih harus dihiasi dengan kondisi jalan macet total, kondisi wilayah Indramayu yang masih banyak hutan, serta belum adanya sistem navigasi. Membuat perjalanan yang biasanya bisa dilalui dalam 4 - 5 jam, harus kami tempuh lebih dari 10 jam.

Sebenarnya untuk apa semua kesulitan perjalanan ini? Untuk mengantarku ke Ma'had Al-Zaytun, mendaftarkan diri menjadi santri disana.

Begitulah cara pertama kalinya aku menginjakan kaki di Ma'had Al-Zaytun.

---

Juni 2001

"Teh habis selesai EBTANAS langsung pulang ya, kita mau langsung berangkat!"

"Emang gabisa besok aja bu. Aku mau main dulu sama temen-temen. Nanti perpisahan kan gabisa ikutan"

"Lho kamu kan tau bates daftar ulang sebelum tesnya hari ini"

"Iyadeh..."

Dengan perasaan campur aduk aku berangkat ke sekolah. Di hari terakhir EBTANAS pun aku tidak bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-temanku karena harus langsung berangkat ke Ma'had Al-Zaytun.

Tidak terasa sudah sekitar 3 bulan aku mempersiapkan diri untuk mengikuti EBTANAS dan ujian masuk Ma'had Al-Zaytun. Apa saja yang kupersiapkan? Belajar semua materi sekolah dan menghapalkan Juz Amma.

---

Pertengahan Juni 2001


Hari 1

"Masa Al-Ikhlas aja gabisa!"

Aku diam tidak menjawab pernyataan penguji padaku. Aku sudah dites beberapa surah yang Qadarullah kurang lancar aku bacakan karena terlalu gugup. Tes hapalan Juz Amma adalah tes lisan pertama yang tidak begitu berhasil aku kuasai.

---

"Jadi kenapa kamu mau sekolah di Ma'had Al-Zaytun?"

"Untuk mengembangkan IPTEK dan IMTAQ saya pak." Seperti burung beo aku mengulang jawaban ini untuk kesekian kalinya.

"Memangnya IPTEK dan IMTAQ kamu kenapa? Belum berkembang?" tatapan penguji kepadaku sangat mengintimidasi.

Aku yang sudah lelah hampir saja menyerah. Untung saja ibuku menggenggam tanganku hangat saat aku menunjukan signal akan mengeluarkan air mata. Maksudku hey...aku hanya anak SD yang baru saja melewati serangkaian ujian sekolah. Apa perlu seintens itu menguji mentalku?

Tes wawancara adalah tes lisan kedua yang berhasil menguasai emosiku.

---

Hari 2

"Jadi kamu orangnya gampang terpancing emosi?"

"Iya bu. Apalagi kalo merasa dipojokan"

Bayangan penguji tes wawancara kembali terngiang saat aku harus menjawab pertanyaan psikolog. Tes psikologi adalah tes terakhir dari rangkaian tes kesehatan. 

---

Hari 3

"Gimana teh? Bisa kamu jawab pertanyaannya?"

"Gabisa bu. Pertanyaannya aneh. Bukan pelajaran yang ada di sekolah. Mungkin kalau di TPA ada. Trus ada pertanyaan sebutkan nama-nama presiden tiap negara sesuai abjad. Yaampun mana aku tau"

"Tapi kamu liat yang lain kebingungan ga?"

"Ga kayaknya"

Belakangan aku baru tau yang tidak kebingungan adalah anak-anak yang mendaftar melalui koordinator di masing-masing daerah. Bukan yang mendaftar secara mandiri sepertiku. Tentu saja persiapan belajar dan menghafal mereka jauh lebih baik karena kurikulumnya disusun oleh koordinator (tim humas Ma'had Al-Zaytun).

---

Hari pengumuman

"Bu kalo aku ga lulus jangan marah ya. Maaf ya udah buang2 waktu sama biaya"

"Lho kok pesimis gitu. Bismillah dong teh. InsyaAllah lulus"

"Iya bu"

Sekitar 3 jam aku menunggu ibuku diluar ruangan pengumuman kelulusan.

"20010725" Akhirnya nomor pendaftaranku disebutkan sebagai salah satu calon santri yang lulus. Ibuku langsung keluar ruangan, memelukku dan mengucapkan selamat.

---

1 minggu kemudian

"Teh...teh..." Terdengar suara ibu dari luar kamar mandi.

"Iya bu"

"Kamu hari ini orientasi kan? Sampe jam berapa?"

"Iya. Belum tau bu, belum dikasih tau wali kelasnya"

Sehari setelah pengumuman kelulusan, ada pengumuman pembagian kelas di lobby gedung penginapan sementara. Kami para calon santri yang dinyatakan lulus harus pindah kamar penginapan sesuai kelas kami. Dan mengikuti kegiatan orientasi bersama.

"Ibu pulang dulu ya. Ibu kan mesti ngajar. Adik-adik kamu juga mesti dicek. Kasian kelamaan ditinggal"

"Ga mau!"

"Lho kan kamunya juga orientasi gaboleh ditemenin orangtua. Lusa ibu balik lagi. Ibu pulang dulu sebentar"

"Nanti dulu tunggu aku selesai mandi dulu!"

"Oke"

Namun yang terjadi adalah aku menemukan surat pamit dari ibu diatas bantalku saat keluar dari kamar mandi. Air matapun kutumpahkan diatas bantal.

Begitulah pertama kalinya aku di tinggal sendirian di lingkungan yang asing bagiku dengan orang-orang baru yang juga masih asing.

---

Juli 2001

Aku menarik koper dan barang-barangku dari  gedung penginapan sementara menuju asrama santri. Ya setelah acara orientasi rampung, aku resmi menjadi santri Ma'had Al-Zaytun.

Jarak gedung penginapan dan asrama cukup jauh. Kami para santri hanya diperbolehkan memindahkan barang dengan jalan kaki, tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan apapun. Ditambah lagi saat itu aku sendirian. Kemarin ibu baru saja pamit pulang setelah datang kembali membawa peralatan sekolah untukku. Jangan ditanya seberapa lelahnya aku bulak balik penginapan - asrama kemudian bulak balik naik turun tangga dari lantai 1 ke lantai 3. Ya di semester 1 aku mendapat kamar asrama di lantai 3.


To be continue....


Menulis adalah caraku mengawetkan memoriku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya Menjadi Alumni Al-Zaytun ep. 2

Rasanya Menjadi Alumni Al-Zaytun ep. 3