Rasanya Menjadi Alumni Al-Zaytun ep. 2

Aku membuka pintu kamar yang terletak di sayap kanan gedung. Mereka menyebutnya blok E2. Meja besar dan kursi lipat yang tersusun rapi menjadi pemandangan pertama yang terlihat. Sedikit menengok kearah kanan, ada dua rak sepatu tepat dibawah kusen jendela. Disebelah kiri pintu terdapat rak buku dan lemari pakaian yang juga berfungsi sebagai pembatas antara ruang belajar dengan kamar tidur.

Memasuki area kamar tidur aku melihat ada 1 ranjang single percis di samping jendela belakang dan 6 ranjang bertingkat tersusun disebelahnya. 

Ada pintu keluar balkon disamping jendela kamar belakang. Sepertinya balkon tersebut adalah tempat khusus menjemur pakaian.

Tepat di sebelah kanan sebelum pintu keluar balkon, ada pintu menuju area kamar mandi. Didalamnya terdapat 3 bilik kamar mandi, wastafel, meja berlaci yang berisi filter air, dan kaca besar tergantung di dinding.

Aku keluar area kamar mandi karena mendengar suara seseorang.

"Assalamu'alaikum. Santri baru ya? Siapa namanya?

"Ashri"

"Salam kenal Ashri, saya Yanti angkatan 1 yg jadi pendamping kamar kamu nanti. Kamu udah tandain ranjang sama lemari?"

"Belum kak"

"Hayu cepetan pilih ranjang sama lemari kamu. Beberapa temen kamu udah nandain tuh. Taro aja barang kamu diatas ranjang sama di dalam lemari. Satu orang satu pintu lemari ya"

"Iya kak"

Akupun mengikuti intruksi kak Yanti.

"Nanti kita ada 13 orang. 1 temen kakak sesama angkatan 1, 10 orang angkatan kamu, sama umi. Daftar namanya udah di tempel di jendela depan"

"Oh..." Kak Yanti adalah kakak kelas yang cukup ramah saat menyambut santri baru. Berarti benar perkataan Syekh saat orientasi kemarin, bahwa Al-Zaytun tidak menerapkan sistem perpeloncoan terhadap santri baru. Rasa gugup yang berkecamuk sejak mengetahui setiap kamar santri baru akan didampingi oleh 2 kakak kelas seketika sirna.

"Barang kamu udah di kamar semua?"

"Belum kak. Ini mau turun lagi ambil barang"

"Yaudah semangat ya. Kakak juga nih masih pindah-pindahin barang dari kamar lama kesini"

"Turun dulu ya kak"

"Oke"

---

Sore hari

"Kamu udah ambil kasur?"

"Udah ada pembagian kasur kak?"

"Ada di lantai 1 itu. Cepetan antri sana. Biar enak tidurnya nanti malem"

Hmmm...lagi-lagi aku harus bersusah payah menarik barang besar dari lantai 1 ke lantai 3.

---

Malam hari

"Perkenalkan nama saya Khoiroh. Kalian bisa panggil saya Umi Khoiroh. Saya yang bertanggung jawab mendampingi kalian di kamar ini selama satu semester kedepan.

Ini Kak Amas dan Kak Yanti, kakak kelas kalian yang akan bantu saya mendampingi kalian. Jadi kalau ada yang mau ditanya, bisa tanya ke Kak Amas atau Kak Yanti ya anak-anak"

Umi adalah panggilan santri untuk guru perempuan.

Umi Khoiroh kemudian mempersilahkan masing-masing dari kami untuk memperkenalkan diri.

Setelah sesi perkenalan, umi melanjutkan penjelasan mengenai kegiatan yang harus kami lakukan setiap hari dari jam 03.00 pagi sampai jam 22.00 malam.

Umi juga mengajak kami untuk menentukan jadwal piket kamar, pembagian kamar mandi, dan jadwal piket kamar mandi. Kata umi setiap hari akan ada penilaian kebersihan kamar. Kamar yang paling bersih dan kamar yang paling kotor akan diumumkan setiap hari jum'at di masjid.

Bagi kamar yang paling bersih akan diberikan bendera putih dan hadiah sedangkan untuk kamar yang paling kotor akan diberikan bendera hitam dan hukuman.

Terakhir umi menunjuk kak Yanti untuk menjadi ketua kamar. Ketua kamar ini nantinya yang akan bertanggung jawab atas segala kegiatan santri di kamar.

"Jadi besok bangun jam 3 pagi ya anak-anak. Antri di kamar mandi yang sesuai pembagian kamar mandi tadi. Kalau udah siap langsung berangkat ke masjid. Usahakan sebelum adzan sudah ada di masjid. Denah tahfidz biasanya ditempel di lantai 1 asrama atau di selasar masjid. Nanti coba dicek aja. Ada pertanyaan?"

"Ke masjidnya sekamar bareng-bareng mi?"

"Bebas. Yang penting jangan telat. Dan jangan lupa bawa Al-Qur'an. Setelah shalat shubuh tahfidz Qur'an dulu jangan langsung pulang"

"Iya umi..." Kami menjawab serempak

"Oke. Hayya nahtatim bi hamdallah"

"Alhamdulillahirabbil aalamiin..."

---

Keesokan harinya

Aku telat bangun!

Saat selesai mandi kamarku sudah kosong. Buru-buru kuturuni tangga terdekat dari kamar. Aku berpacu dengan suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang biasa diputar sebelum Adzan berkumandang.

 Tiba-tiba ada security menghadangku.

"Mau kemana?"

"Ke masjid bi"

"Kenapa lewat sini?"

Aku bingung harus menjawab apa, memangnya tidak boleh lewat sini?

"Kamu santri baru ya?"

"Iya bi"

"Lain kali jangan lewat tangga ini ya. Tangga ini perboden. Tuh liat ada tandanya kan"

"Jadi saya naik lagi apa gimana bi?"

"Yaudah buat kali ini gapapa, lain kali pilih tangga lain selain tangga ini ya"

"Terimakasih bi"

Aku segera berlari menuju masjid Al-Hayat yang jaraknya cukup jauh dari asrama.

Sekedar informasi, di gedung asrama terdapat banyak sekali tangga. Setiap asrama punya 6 blok dan setiap blok punya 1 tangga. Ditambah lagi ada tangga pusat ditengah asrama. Mungkin hal ini bertujuan agar tidak terjadi penumpukan santri di tangga saat harus ke masjid ataupun sekolah.

---

"Icha"

Sedikit berteriak aku memanggil bayangan teman sekamarku. Saat ini masjid sedang dalam kondisi carut marut karena para santri baru sedang mencari lokasi tahfidz kamar masing-masing. Aku berjalan kearah teman yang kupanggil.

"Kamu udah liat denahnya cha?"

"Udah tapi bingung"

Kami berdua pun celingak celinguk mencari teman kamar kami yang lain.

"Itu Umi Koiroh!" seru Icha

Kami berlari kearah Umi Khoiroh yang sepertinya sedang memberi intruksi kepada santri letak tahfidz kamar sesuai denah.

---

"Umi, tadi saya lewat tangga sebelah kanan trus dijegat satpam. Katanya perboden. Kenapa emang mi?"

"Tangga di blok kamar kita?"

"Iya mi"

"Ya gaboleh lewat situ. Dua kamar dibawah itu kamarnya Syekh. Orang gaboleh lewat sembarangan"

"Kok kamar Syekh di asrama Nisa mi?"

"Karena asrama kita asrama yang paling pertama berdiri"

"Asrama Rijal?"

"Waktu angkatan 1 baru ada asrama kita. Rijal Nisa tinggal dalam 1 asrama. Tapi pisah kamar, pisah area kegiatan. Tempat Syekh itu tadinya emang area kamar Rijal."

"Emang muat mi Rijal sama Nisa 1 asrama?"

"Muat. Angkatan 1 kan jumlah santrinya ga seberapa. Begitu angkatan 2 masuk, ada asrama baru. Rijal sama Nisa asramanya akhirnya dipisah. Nah angkatan kamu ini yang jumlah santrinya luar biasa. Walaupun ada asrama baru, jumlah kamarnya tetep ga cukup. Akhirnya sistem kamar dirubah. Tadinya satu kamar 10 orang santri seangkatan dan 1 orang abi/umi pendamping. Sekarang jadi 12 orang santri dan 1 abi/umi pendamping. Angkatan 1 yang dipecah jadi 1 kamar 2 orang di kamar santri baru. Biar bisa bimbing kalian dikamar.

"Oh..."

"Oh oh aja! mana setoran hapalan kamu?"

"Eh iya mi...hehehe"

---

To be continue....

---

NB: Karena bukan yang mengalami, ingatan saya tentang santri laki-laki dan perempuan satu asrama saat angkatan 1 sebenarnya samar-samar. Seingat saya dulu ada cerita seperti itu. Karena gedung asrama memang baru ada 1.

Tentang pembagian wilayah asrama antara santri laki-laki dan perempuan pun samar-samar diingatan saya. 

Yang jelas mereka hanya satu gedung, tapi ruang kegiatannya tetap terpisah. Begitu ada asrama baru di tahun berikutnya, asrama untuk santri laki-laki dan perempuan akhirnya dipisah. CMIIW

---

TMI: setiap tahunnya Al-Zaytun membangun 1 gedung asrama dan 1 gedung pembelajaran baru untuk santri baru. Meskipun nantinya pembagian kamar dan kelas untuk santri baru belum tentu terletak di gedung baru.

Gedung pembelajaran ke depannya akan diklaim sebagai icon yang dimiliki tiap angkatan. Setidaknya begitu yang terjadi hingga angkatan ke 5. Karena di tahun ke 6 hingga angkatan saya lulus, belum ada gedung asrama dan gedung pembelajaran baru yang rampung. 

---

Menulis adalah caraku mengawetkan memoriku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rasanya Menjadi Alumni Al-Zaytun ep. 1

Rasanya Menjadi Alumni Al-Zaytun ep. 3